Masalah perundungan atau bullying di lingkungan sekolah merupakan tantangan serius yang memerlukan penanganan sistematis dan berkelanjutan. Di SMPN 1 Bangil, upaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman dilakukan melalui inisiatif unik yang datang langsung dari para siswa. Terbentuknya Anti Bullying Squad menjadi bukti nyata bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan saling menghargai sudah tertanam kuat di hati para pelajar. Gerakan ini dimotori sepenuhnya oleh pengurus OSIS yang merasa memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi rekan-rekan mereka dari segala bentuk intimidasi, baik secara fisik maupun verbal.
Program ini berjalan secara mandiri di bawah pengawasan guru bimbingan konseling. Anggota skuad ini bertindak sebagai duta perdamaian yang tersebar di setiap kelas. Mereka dilatih untuk mengenali tanda-tanda awal terjadinya perundungan dan melakukan pendekatan persuasif kepada pelaku maupun korban. Keunggulan dari gerakan ini adalah pendekatannya yang bersifat “peer-to-peer” atau antar teman sebaya, sehingga siswa yang mengalami masalah cenderung lebih terbuka untuk bercerita kepada anggota skuad daripada langsung kepada guru. Di SMPN 1 Bangil, budaya melaporkan tindakan negatif bukan dianggap sebagai perilaku “mengadu”, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Kegiatan rutin yang dilakukan oleh tim ini mencakup sosialisasi bahaya perundungan melalui kampanye kreatif di media sosial sekolah, pembuatan poster edukatif, hingga diskusi terbuka saat jam istirahat. Gerakan ini juga menekankan pada pentingnya “bystander intervention”, yaitu mengajak siswa lain yang melihat kejadian perundungan untuk tidak diam saja, melainkan berani membela atau melaporkannya. Dengan demikian, tidak ada ruang bagi pelaku perundungan untuk merasa dominan di sekolah. Keberanian yang dibangun oleh pengurus OSIS ini memberikan rasa aman bagi seluruh siswa, terutama bagi siswa baru yang sedang dalam masa adaptasi.
Integrasi nilai-nilai persaudaraan di SMPN 1 Bangil melalui program ini telah berhasil menurunkan angka laporan konflik antar siswa secara drastis. Skuad anti-bullying ini juga sering mengadakan workshop tentang kecerdasan emosional dan cara berkomunikasi yang asertif. Mereka belajar bahwa kekuatan sebenarnya bukan terletak pada penindasan terhadap orang lain, melainkan pada kemampuan untuk merangkul perbedaan. Sekolah memberikan apresiasi tinggi bagi setiap anggota yang berhasil memediasi konflik secara damai, yang menjadi motivasi tambahan bagi siswa lain untuk ikut serta dalam gerakan positif ini.