Penting untuk dipahami bahwa bahaya utama dari rabies terletak pada masa inkubasinya yang tidak terlihat namun mematikan. Begitu gejala klinis seperti takut air (hidrofobia), takut angin (aerofobia), dan perubahan perilaku yang agresif muncul pada manusia, maka tingkat kematiannya mencapai hampir seratus persen. Oleh karena itu, kunci utama keselamatan bukanlah pengobatan setelah sakit, melainkan pencegahan segera setelah terjadi gigitan dari hewan penular rabies (HPR) seperti anjing, kucing, kera, atau kelelawar. Jangan pernah menyepelekan luka kecil, karena virus rabies tetap bisa masuk melalui luka lecet sekalipun.
Langkah P3K yang paling krusial dan wajib dilakukan segera setelah digigit adalah mencuci luka dengan air mengalir dan sabun selama 15 menit. Mengapa harus sabun? Virus rabies memiliki selubung lemak yang akan hancur jika terkena deterjen atau sabun. Dengan mencuci luka secara teliti di bawah air yang mengalir, kita secara mekanis membuang sebagian besar partikel virus yang ada di area luka. Siswa di Bangil diajarkan untuk melakukan prosedur ini sebagai tindakan darurat pertama sebelum membawa korban ke fasilitas kesehatan. Setelah dicuci, luka bisa diberikan antiseptik seperti povidone-iodine atau alkohol 70%.
Setelah penanganan mandiri di rumah, langkah selanjutnya yang tidak boleh dilewatkan adalah segera menuju ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) atau Serum Anti Rabies (SAR) sesuai dengan tingkat keparahan luka. Jangan menunda hingga esok hari; setiap jam sangat berharga dalam proses pembentukan antibodi sebelum virus mencapai otak. Selain menangani korban, hewan yang menggigit juga harus diamankan dan diobservasi selama 10 hingga 14 hari oleh petugas kesehatan hewan. Jika hewan tersebut mati dalam masa observasi, maka kemungkinan besar hewan tersebut positif mengidap rabies.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak kasus kematian akibat rabies terjadi karena korban merasa lukanya hanya kecil dan tidak berdarah banyak, sehingga mereka enggan mencari bantuan medis. Melalui edukasi di tingkat sekolah, diharapkan para siswa dapat menjadi agen informasi bagi keluarga mereka bahwa fakta tentang rabies tidak boleh dianggap remeh. Hewan peliharaan di rumah juga harus dipastikan mendapatkan vaksinasi rabies secara rutin setiap tahun untuk memutus rantai penularan di lingkungan pemukiman.