Air adalah komponen mendasar bagi kesehatan manusia, namun ketersediaannya kini semakin terancam oleh pencemaran lingkungan yang masif. Di daerah industri dan pemukiman padat, menjaga Kualitas Air Bersih menjadi tantangan yang sangat berat. Menanggapi isu ini, para siswa di SMPN 1 Bangil melakukan sebuah penelitian penting untuk memantau kondisi air tanah di wilayah mereka. Fokus penelitian ini adalah untuk melihat sejauh mana infiltrasi Limbah domestik maupun industri telah mempengaruhi keamanan air yang dikonsumsi oleh warga sekitar melalui sarana air tanah tradisional.
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel air dari berbagai titik Sumur gali maupun bor yang berada di sekitar lingkungan sekolah dan pemukiman siswa. Para siswa di SMPN 1 Bangil dilatih untuk menggunakan parameter fisik dan kimia sederhana untuk mengukur tingkat kelayakan air. Mereka mengamati kejernihan, bau, rasa, serta melakukan uji pH dan keberadaan bakteri tertentu. Menjaga Kualitas Air Bersih bukan sekadar masalah estetika, tetapi merupakan upaya pencegahan terhadap berbagai penyakit berbahaya yang dapat menyerang saluran pencernaan manusia jika air terkontaminasi.
Salah satu temuan yang menjadi sorotan adalah bagaimana penempatan tangki septik yang terlalu dekat dengan Sumur dapat memperburuk kondisi air tanah. Melalui analisis ini, siswa SMPN 1 Bangil menyimpulkan bahwa kontaminasi Limbah cair sering kali meresap melalui lapisan tanah yang tidak kedap air, terutama saat musim hujan tiba. Edukasi mengenai jarak aman antara sumber pencemar dan sumber air menjadi bagian krusial dari laporan penelitian mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran sanitasi masyarakat sangat mempengaruhi mutu air yang digunakan untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus sehari-hari.
Dampak dari pembuangan Limbah secara sembarangan tidak hanya dirasakan oleh satu keluarga, melainkan oleh seluruh ekosistem lingkungan. Di wilayah Bangil, di mana aktivitas ekonomi cukup padat, resiko pencemaran bahan kimia juga menjadi perhatian dalam pengujian Kualitas Air Bersih. Siswa diajarkan untuk memahami bahwa zat beracun yang meresap ke dalam tanah akan bertahan dalam waktu yang sangat lama dan sulit untuk dinetralisir. Melalui studi di SMPN 1 Bangil, para pelajar ini menjadi lebih waspada terhadap lingkungan sekitar dan mulai menyuarakan pentingnya pengolahan limbah yang benar sebelum dilepaskan ke alam.