Pasar tradisional sering kali dianggap sebagai tempat yang bising, kotor, dan tidak menarik bagi generasi muda yang terbiasa dengan kenyamanan mal modern. Namun, melalui program lensa siswa yang diinisiasi oleh SMPN 1 Bangil, pandangan tersebut mulai bergeser. Para siswa diajak untuk melihat pasar dengan cara yang berbeda, yaitu melalui sudut pandang estetika dan sosiologis. Menggunakan kamera digital maupun ponsel pintar, mereka turun ke jantung keramaian pasar untuk menangkap momen-momen yang sering terlewatkan oleh mata orang awam, mengubah interaksi harian menjadi sebuah karya seni visual yang bercerita.
Fokus dari kegiatan ini adalah membedah dinamika kehidupan pasar tradisional yang merupakan urat nadi ekonomi kerakyatan di Bangil. Siswa belajar memotret bukan hanya soal teknik pencahayaan atau komposisi, tetapi tentang menangkap emosi. Potret seorang pedagang sayur yang tersenyum saat melayani pelanggan, detail tekstur rempah-rempah yang tertata rapi, hingga permainan bayangan di lorong-lorong pasar yang sempit menjadi objek yang menarik. Melalui proses ini, siswa secara tidak langsung melakukan observasi mengenai sirkulasi barang dan jasa, serta bagaimana hubungan sosial yang erat terjalin di ruang publik yang demokratis tersebut.
Edukasi mengenai fotografi di SMPN 1 Bangil tidak hanya berhenti pada teknis pengambilan gambar, tetapi juga pada narasi di balik foto tersebut. Setiap siswa diminta untuk menuliskan cerita pendek atau deskripsi mengenai foto yang mereka ambil. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan literasi visual dan kemampuan bercerita (storytelling). Mereka mulai memahami bahwa setiap individu di pasar memiliki latar belakang perjuangan yang luar biasa untuk menghidupi keluarga. Dengan demikian, kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana untuk membangun empati dan rasa hormat terhadap berbagai profesi yang ada di masyarakat.
Hasil karya para siswa kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku digital dan pameran foto di aula sekolah. Pameran ini menarik perhatian banyak pihak, karena mampu menampilkan sisi artistik dari sebuah tempat yang dianggap biasa saja. Masyarakat dapat melihat bagaimana mata remaja melihat realitas sosial mereka. Bagi SMPN 1 Bangil, keberhasilan program ini adalah ketika siswa mampu menghargai warisan budaya dan kearifan lokal yang ada di pasar tradisional. Di tengah gempuran digitalisasi ekonomi, pasar tetap menjadi tempat di mana kemanusiaan dan transaksi bertemu secara jujur, dan hal itulah yang berhasil diabadikan oleh lensa-lensa muda ini.