Literasi keuangan merupakan keterampilan hidup yang sering kali terlupakan dalam kurikulum formal, namun SMPN 1 Bangil mengambil langkah berbeda. Sekolah ini meluncurkan program edukatif yang mengajak seluruh siswanya untuk mulai disiplin menabung sebagai bagian dari pembentukan karakter mandiri. Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman praktis kepada remaja mengenai pentingnya menghargai nilai uang dan merencanakan masa depan melalui pengelolaan finansial yang bijak sejak masa sekolah.
Kegiatan menabung di SMPN 1 Bangil diintegrasikan ke dalam aktivitas harian di mana siswa didorong untuk menyisihkan sebagian kecil dari uang jajan mereka. Dengan mengajarkan cara kelola uang saku, sekolah ingin mengikis budaya konsumerisme yang sering kali menjangkiti remaja akibat pengaruh media sosial. Siswa diajarkan untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Melalui pencatatan keuangan sederhana, mereka belajar bahwa dengan menunda kepuasan sesaat (delayed gratification), mereka bisa mendapatkan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat di masa depan.
Penerapan disiplin menabung ini juga didukung oleh kerja sama dengan lembaga perbankan lokal untuk menyediakan layanan simpanan pelajar. Hal ini memberikan pengalaman nyata bagi siswa dalam berinteraksi dengan institusi keuangan resmi. Memiliki buku tabungan atas nama sendiri memberikan rasa bangga dan tanggung jawab tersendiri bagi siswa. Mereka merasa memiliki kendali atas masa depan finansial mereka, meskipun dimulai dari nominal yang sangat kecil. Konsistensi dalam menyisihkan uang setiap hari inilah yang menjadi inti dari pendidikan karakter di sekolah ini.
Lebih jauh lagi, kemampuan untuk kelola uang saku sejak dini berdampak pada kemandirian siswa dalam memenuhi kebutuhan sekolah mereka sendiri. Banyak siswa yang akhirnya mampu membeli buku referensi tambahan, perlengkapan ekstrakurikuler, atau bahkan membantu biaya studi lapangan dari hasil tabungan mereka sendiri. Rasa bangga karena mampu membeli sesuatu dari jerih payah sendiri (melalui penghematan) adalah pelajaran harga diri yang tidak bisa dibeli dengan uang. Hal ini membangun mentalitas mandiri yang kuat sebelum mereka memasuki usia dewasa.
Guru-guru di SMPN 1 Bangil juga memberikan materi pendampingan mengenai kewirausahaan dasar sebagai pelengkap program disiplin menabung. Siswa diajak berpikir kreatif bagaimana cara menambah nilai dari uang yang mereka miliki, misalnya dengan membuat kerajinan tangan untuk dijual kembali di lingkungan sekolah. Sinergi antara menabung dan berwirausaha ini menciptakan ekosistem pendidikan ekonomi yang lengkap. Siswa tidak hanya pintar menyimpan uang, tetapi juga cerdas dalam melihat peluang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka secara halal dan jujur.