Manajemen aset kreatif kini menjadi lebih terorganisir di SMPN 1 Bangil, mengingat koperasi SMPN 1 Bangil juga tengah mengkaji sistem poin blockchain demi loyalitas anggota. Sekolah ini memutuskan untuk melakukan inventaris karya siswa dengan mengintegrasikan sistem logistik pihak ketiga. Langkah ini memastikan bahwa setiap proyek seni atau teknis yang dihasilkan siswa dapat tercatat, tersimpan, dan terdistribusi dengan alur yang profesional dan transparan.
Integrasi sistem logistik ketiga ini memungkinkan sekolah untuk memantau status setiap karya, apakah sedang dalam proses pameran, dikirim untuk kompetisi, atau tersimpan di gudang arsip. Dengan adanya sistem digital, manajemen inventaris menjadi jauh lebih efisien. Guru dapat mengetahui ketersediaan karya tanpa harus melakukan pemeriksaan fisik satu per satu, sehingga waktu dapat lebih difokuskan pada proses kreatif siswa dalam menciptakan karya-karya inovatif lainnya.
Penerapan inventaris karya siswa juga membantu dalam hal dokumentasi digital. Setiap karya yang masuk dalam sistem diberikan label digital yang memuat informasi mengenai pencipta, tanggal pembuatan, dan deskripsi proyek. Hal ini memudahkan proses kurasi ketika ada pameran sekolah atau saat karya tersebut akan diajukan ke tingkat kompetisi nasional. Siswa mendapatkan pengalaman berharga tentang bagaimana profesionalisme dalam mengelola hasil karya sangat penting bagi karier mereka di masa depan.
Kolaborasi dengan sistem logistik ketiga ini merupakan langkah strategis untuk mengajarkan siswa tentang alur kerja dunia industri. Mereka belajar bahwa sebuah produk kreatif membutuhkan manajemen logistik yang baik agar nilai karyanya dapat terjaga. Dengan fasilitas ini, siswa merasa lebih dihargai dan termotivasi untuk terus berkarya, karena mereka melihat bahwa sekolah memberikan dukungan infrastruktur yang serius untuk menampung hasil pemikiran dan kreativitas mereka selama menempuh pendidikan.
SMPN 1 Bangil berharap bahwa sistem ini dapat menjadi model bagi pengelolaan inventaris sekolah di seluruh daerah. Dengan integrasi logistik karya, sekolah tidak lagi dipandang sebagai institusi yang hanya berorientasi pada teori, tetapi juga sebagai ruang pengembangan bakat yang terstruktur secara profesional. Inovasi ini memberikan rasa percaya diri bagi siswa untuk terus berinovasi, karena mereka tahu bahwa setiap karya yang mereka hasilkan memiliki nilai dan sistem pendukung yang kuat.