Kebutuhan akan pakan ternak berkualitas tinggi dengan harga terjangkau menjadi salah satu tantangan besar bagi para peternak di Indonesia. Tingginya harga pakan pabrikan yang sering kali bergantung pada bahan impor mendorong munculnya berbagai inovasi lokal. Salah satu solusi yang paling menjanjikan muncul dari SMPN 1 Bangil, di mana para siswanya berhasil mengolah larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly) menjadi Tepung Maggot. Produk ini kini dipromosikan sebagai pakan kaya protein yang mampu mempercepat pertumbuhan ternak sekaligus menekan biaya produksi secara signifikan.
Proses pembuatan tepung ini dimulai dari pengelolaan sampah organik di lingkungan sekolah. Maggot dikenal sebagai pengurai sampah yang sangat rakus; mereka mampu mengonsumsi sisa makanan dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Siswa belajar untuk memelihara siklus hidup lalat ini, mulai dari telur hingga menjadi larva atau maggot. Setelah mencapai usia tertentu, maggot dipanen, dibersihkan, dan dikeringkan sebelum akhirnya digiling halus menjadi bentuk tepung. Inovasi ini tidak hanya menjawab masalah pakan, tetapi juga menjadi solusi cerdas bagi pengelolaan limbah organik sekolah yang selama ini sering menjadi masalah.
Secara nutrisi, tepung hasil karya siswa Bangil ini tidak kalah dengan produk komersial. Kandungan protein yang mencapai lebih dari 40% menjadikannya Alternatif Pakan Ternak yang sangat kompetitif untuk unggas maupun ikan tawar. Siswa melakukan uji coba terbatas pada beberapa ekor ayam di area prakarya sekolah, dan hasilnya menunjukkan pertumbuhan berat badan yang lebih optimal dibandingkan dengan ayam yang hanya diberi pakan dedak biasa. Hal ini memberikan bukti empiris bahwa solusi ramah lingkungan ini memiliki nilai ekonomis dan teknis yang tinggi jika diterapkan dalam skala yang lebih luas.
Penerapan program ini di SMPN 1 Bangil mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, mulai dari biologi, kewirausahaan, hingga kimia dasar. Siswa diajarkan bagaimana menghitung rasio konversi pakan serta cara mengemas produk agar memiliki nilai jual. Mentalitas wirausaha muda mulai terbentuk saat mereka melihat bahwa limbah yang biasanya dibuang begitu saja dapat diubah menjadi komoditas yang bernilai tinggi di pasar pertanian dan peternakan. Inisiatif ini mendidik siswa untuk menjadi kreatif dalam mencari peluang di tengah keterbatasan sumber daya.