Batik bukan hanya sekadar kain bermotif, melainkan identitas bangsa yang telah diakui oleh dunia sebagai warisan budaya tak benda. Untuk menjaga agar kekayaan ini tetap lestari di tengah gempuran budaya modern, SMPN 1 Bangil mengambil inisiatif strategis dengan menyelenggarakan Workshop Membatik bagi para siswanya. Kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap karya seni asli Indonesia sejak dini. Melalui sentuhan tangan-tangan muda, diharapkan motif-motif batik tradisional tetap hidup dan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan makna filosofisnya.
Kegiatan yang dilaksanakan di SMPN 1 Bangil ini memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai proses pembuatan batik yang sesungguhnya. Selama ini, banyak siswa yang hanya melihat batik sebagai pakaian jadi tanpa mengetahui betapa rumit dan detailnya proses pembuatannya. Dalam workshop ini, mereka diajak untuk mengenal setiap tahapan, mulai dari membuat pola di atas kain putih (nyorek), proses mencanting dengan lilin panas, hingga tahap pewarnaan dan pelorodan. Proses yang membutuhkan kesabaran luar biasa ini memberikan pelajaran berharga tentang ketelatenan dan apresiasi terhadap sebuah karya seni.
Inti dari agenda ini adalah Sosialisasi Pelestarian Warisan Budaya. Sekolah menyadari bahwa cara terbaik untuk melestarikan budaya adalah dengan menjadikannya bagian dari gaya hidup generasi muda. Melalui sosialisasi ini, siswa diberikan pemahaman mengenai sejarah batik di Indonesia, makna dari setiap motif yang ada, serta mengapa kita berkewajiban untuk menjaganya. Pengetahuan ini sangat penting agar siswa tidak hanya sekadar memakai batik, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Dengan pemahaman yang kuat, mereka akan menjadi agen perubahan yang aktif mempromosikan kebudayaan lokal kepada lingkungan sekitarnya.
Dalam sesi Workshop Membatik, para siswa didorong untuk berkreasi dengan motif-motif baru yang lebih kontemporer namun tetap menggunakan teknik tradisional. Hal ini bertujuan agar batik tetap relevan bagi selera anak muda masa kini. Para instruktur ahli membimbing siswa cara memegang canting dengan benar agar aliran lilin tetap stabil dan tidak merusak kain. Suasana workshop yang santai namun fokus menciptakan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri mereka melalui pola dan warna. Interaksi antara siswa dan para perajin batik lokal yang menjadi narasumber juga mempererat hubungan antara dunia pendidikan dan para pelaku budaya di lapangan.